PENDIRIAN YAYASAN SATU JALAN
"Membangun Work Camp di desa rehabilitasi kusta untuk orang yang pernah mengalami kusta di Indonesia bersama dengan mahasiswa Indonesia"
Pada tahun 2009 bulan Oktober, saya mengambil cuti kuliah selama setahun dan mulai hidup di Indonesia. Saya punya mimpi yang besar tentang kegiatan Work Camp, tetapi waktu itu belum ada teman yang saya kenal di Indonesia. Saya juga belum bisa bicara bahasa Indonesia dengan lancar, dan belum memiliki tempat tinggal. Dari situlah semuanya dimulai.
Sekarang, sudah hampir 10 tahun terlewati. Pada bulan Februari tahun 2010, bersama dengan 10 mahasiswa dari Indonesia, kami membuat sebuah komunitas dengan tujuan untuk mengurangi diskriminasi dan stigma terhadap orang yang pernah mengalami kusta, bernama Leprosy Care Community.
Kegiatan oertama dilakukan di desa rehabilitasi kusta Sitanala, Banten, pada bulan Juni 2010. Kegiatan ini berbentuk mini Work Camp yang diikuti oleh 15 volunteer. Setelah itu, di bulan Agustus 2010, kami mengadakan Work Camp untuk pertama kalinya di desa Nganget, Jawa Timur. Ada 13 mahasiswa dari Indonesia dan 15 mahasiswa dari Jepang.
Awalnya para warga hanya melihat kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa. Dengan malu-malu, akhirnya mereka mulai membantu. Warga desa dan mahasiswa memiliki banyak perbedaan later belakang. Bahasa, agama dan pengalaman pernah mengalami kusta. Tapi di Nganget, mereka memiliki kesamaan. Mereka bekerja bersama dan tinggal bersama. Para mahasiswa tidak melihat warga desa dari penampilan luarnya, tapi apa yang mereka miliki di dalam hati. Seiring banyaknya waktu yang dihabiskan bersama, membuat mereka memiliki hubungan yang dalam satu sama lain.
Pada tahun 2013, kami mulai mengadakan Work Camp di tempat lain juga, yakni di Donorojo, Jawa Tengah dan di Sumberglagah, Jawa Timur.
Sekarang di tahun 2019, kami membuka Work Camp di tiga tempat sekaligus yakni Nganget, Donorojo dan Sumberglagah. Ada sekitar 70 mahasiswa dari Indonesia dan Jepang akan mengikuti kegiatan ini. Selama 10 tahun yang telah berlalu, kegiatan Work Camp yang diadakan di desa rehabilitasi kusta sudah mengakar dan berkembang di Indonesia.
Dengan memperbaiki infrastruktur, masyarakat umum di sekitar desa rehabilitasi kusta juga mulai berubah. Contohnya, masyarakat yang tinggal di dekat desa Nganget tahu bahwa setiap tahun ada mahasiswa dari Jepang dan Indonesia yang datang ke Nganget. Berinteraksi dengan orang yang pernah mengalami kusta. Akhirnya, hal itu menimbulkan ketertarikan yang mendorong mereka datang ke Nganget. Pada tahun 2010, tidak ada orang yang datang ke sumber air panas di Nganget, tetapi sekarang banyak sekali orang datang, bahkan dari luar desa Nganget.
Sesungguhnya, selain tiga desa rehabilitasi tersebut, masih ada banyak desa rehabilitasi kusta di Indonesia. Masih banyak pula desa rehabilitasi kusta yang membutuhkan perbaikan infrastruktur. Saat ini, di Indonesia, masih banyak orang yang belum memahami kusta dengan baik. Masih banyak memiliki sikap diskriminatif terhadap orang yang pernah mengalami kusta serta keluarganya. Oleh karena itu, kita semua yang pernah dan sedang mengikuti kegiatan Work Camp harus terus menyebarkan dan mengembangkan kegiatan kami, seperti kegiatan membagikan informasi yang benar tentang kusta, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kusta, membantu pendidikan anak dari orang yang pernah mengalami kusta, dan sebagainya. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan masyarakat yang tidak mendiskriminasi orang yang pernah mengalami kusta serta keluarganya.
Untuk berkembang dan menyebarkan kegiatan kami ini, kami menemukan tantangan berikutnya;
Pertama, menjaga nilai kegiatan kami.
Kegiatan Work Camp yang kami bangun bersama telah dilakukan selama 10 tahun dan ada banyak mahasiswa yang telah mengikuti kegiatan ini. Pendapat, masukan, dan pandangan baru dari mahasiswa-mahasiswa yang mengikuti Work Camp membuat kegiatan ini menjadi unik tiap tahunnya
Di antara nilai-nilai yang ada dalam kegiatan kita, ada nilai yang harus diubah sesuai situasi yang ada saat itu, namun ada juga nilai-nilai dasar yang tidak bisa diubah. Kami harus selalu tanya ke diri kami sendiri "apa nilai kegiatan kami?" dan berusaha untuk memikirkan nilai yang paling tepat sesuai zaman tanpa mengubah esensi utamanya.
Nilai-nilai utama yang menjadi dasar dari kegiatan Work Camp harus terus disampaikan pada generasi selanjutnya. Dengan demikian, nilai dasar kegiatan ini tidak berubah atau berkurang meskipun sudah terjadi regenerasi ke tahun-tahun berikutnya.
Kedua, menyimpan dan menyebar informasi.
Kami, mahasiswa yang mengikuti kegiatan Work Camp, bertemu dan mendengarkan cerita orang yang pernah mengalami kusta secara langsung. Semakin lama kegiatan ini diteruskan, kami akan punya makin banyak cerita tentang pengalaman dan informasi terkait orang yang pernah mengalami kusta. Menceritakan kembali apa yang kami sudah dengar, ditambah dengan menceritakan pengalaman kami sendiri saat berinteraksi dengan orang yang pernah mengalami kusta pada orang lain, merupakan salah satu cara efektif untuk mengurangi diskriminasi pada orang yang pernah mengalami kusta
Akan tetapi, sampai sekarang, informasi, pengalaman atau cerita yang pernah kami dengar hanya tersimpan di dalam diri kami pribadi. Bagaimana jika puluhan tahun nanti kami sudah tidak mampu bercerita? Akhirnya, akan ada generasi yang tidak pernah tahu tentang kusta dan segala perbuatan diskriminatif yang pernah dilakukan manusia pada manusia lain yang pernah mengalami kusta. Oleh karena itu, menyimpan tiap cerita, informasi dan pengalaman ini dalam bentuk dokumentasi atau tulisan menjadi hal yang sangat penting untuk mulai dikerjakan.
Selain cerita dari orang yang pernah mengalami kusta, alangkah baiknya jika kami dapat mencari dan menyimpan informasi tentang sejarah desa rehabilitasi kusta, sejarah peraturan dari pemerintah pada masanya dan sejarah tentang kusta itu sendiri.
Ketiga, membutuhkan staf yang dapat bekerja untuk membantu kegiatan Work Camp setelah lulus universitas.
Tidak dapat dipungkiri bahwa komunitas ini memerlukan seseorang yang memiliki dedikasi tinggi untuk membantu menyelesaikan tiap tantangan yang ada. Sayangnya, jika tetap berdiri sebagai sebuah komunitas, tampaknya akan sangat susah untuk mengajak orang lain menjadi staf. Kami sangat sadar bahwa seseorang tetap perlu mencukupi kebutuhan utamanya dan memperoleh perlindungan hukum sebagai seorang karyawan atau staf.
Untuk menghadapi ketiga tantangan di atas, kami memutuskan untuk mendirikan yayasan yang memiliki struktur kuat dan terdaftar secara legal di Indonesia. Sebagai sebuah yayasan, kami dapat melakukan berbagai upaya dan usaha di bawah pengawasan pemerintah Indonesia untuk mewujudkan organisasi yang dapat mandiri secara finansial. Dengan demikian kami dapat bertanggung jawab pada orang-orang yang akan kami ajak menjadid staf dan mencukupi kebutuhan utamanya.
Dengan memiliki staf berdedikasi dan organisasi yang mandiri secara finansial, kami akan dapat mengembangkan kegiatan Work Camp yang sudah berjalan 10 tahun ini, sehingga dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi orang yang pernah mengalami kusta dan masyarakat. Bisa dengan mengadakan Work Camp di desa rehabilitasi kusta yang lebih jauh, mengadakan sosialisasi yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas atau bahkan memberdayakan orang yang pernah mengalami kusta.
Yayasan baru yang akan segera didirikan ini akan berfungsi sebagai pusat koordinasi yang mendukung semua kegiatan Work Camp di Indonesia